Topi : Kembali ke Kebiasaan Lama

Akhir-akhir ini ada sebuah kebiasaan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan, yaitu menggunakan topi dalam keadaan santai.

Selain di pabrik, entah kapan tepatnya saya menggunakan topi di acara non formal. Mungkin terakhir kali menggunakan topi santai sekitar 4-5 tahun lalu.

Continue reading “Topi : Kembali ke Kebiasaan Lama”

Satu per Satu

Dulu…
Saat satu per satu
Sudah melangkah maju
Diriku hanya diam membisu

Dulu…
Saat satu per satu
Sudah berbalut lencana
Diriku hanya diam terpana

Dulu…
Saat satu per satu
Sudah meraih mimpi
Diriku hanya terpaku sedih

Sekarang…
Saat satu per satu
Sudah melanglang buana
Diriku masih duduk terkesima

Dan…
Saat satu per satu
Sudah terlihat bahagia
Diriku pun masih terluka

Posted from Xperia E-ki

Golongan Putih atau Hitam

Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me – milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam?

Menjelang pemilu mulai banyak yang menyebarkan ide untuk menjadi golput atau secara terbuka menyatakan diri akan golput. Golput atau golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu, sekalipun mempunyai hak pilih.

Ada yang menggelitik saya ketika mendengar lagi kata golput terutama mengacu pada singkatannya. Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me – milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam? Bukankah putih sering dianggap sebagai kebalikan hitam? Bukankah putih selalu identik dengan kesucian, kebaikan, dan kebenaran? Lalu mengapa yang tidak memilih malah dianggap kelompok putih? Kalau mau tetap menggunakan warna, menurut saya, putih bukan warna yang tepat.

Continue reading “Golongan Putih atau Hitam”

Melepasmu dan Memilihnya

Dirimu juga sempat ku antar ke beberapa tempat, namun rata-rata jawaban mereka sama. “Sepertinya sudah tidak ada harapan…”

Akhirnya… setelah kurang lebih 3 tahun kita bersama, dengan berat hati saya mencoba berpaling ke yang lain. Bukan.. bukan karena saya tidak mencoba setia… namun, karena inilah hidup.. inilah pilihan.. dan pilihan yang ada saat ini adalah saya harus melepasmu dan kemudian memilihnya.

Kamu percaya kan dengan takdir? Ya, takdir itulah yang mempertemukan kita. Saat itu, tak ada di dalam benakku untuk memilihmu karena dirimu bukanlah pilihan pertama. Ada sosok lain yang aku ingin pilih. Namun akhirnya takdir berkata lain dan diriku mau tak mau harus memilihmu.

Dan disinilah keajaiban sebuah takdir. Kita tak pernah tahu apakah kejadian yang saat ini kita alami adalah kejadian buruk atau baik dikarenakan hikmah dari sebuah kejadian itu baru biss kita ketahui setelahnya.

Continue reading “Melepasmu dan Memilihnya”

2 Februari, 6 Tahun lalu

Dan kembali saya menyadari bahwa tanggung jawab itu hanyalah sebuah trial alias test case apakah diri ini layak atau tidak diberikan tanggung jawab yang lebih besar…

Dalam setiap jejak kehidupan setiap insan, pasti akan selalu ada momentum kehidupan yang didapatkannya. Baik suka maupun duka, baik keberhasilan maupun kegagalan, atau aktivitas apapun yang membuat ekspresi wajah silih berganti dari tersenyum, tertawa, maupun menangis. Dan diri ini pun mengalami salah satu momen kehidupan yang tepat terjadi di tanggal ini, 6 tahun lalu, di sebuah tempat terpencil di pinggir kota Sleman, Yogyakarta.

Kala itu, ibarat sebuah misi rahasia, saya diminta untuk datang ke suatu tempat yang saya sendiri belum tahu dimana itu. Dan di malam hari pula! Hanya bermodalkan ancer-ancer lokasi dan sebuah pesan “tidak perlu mencertitakan hal ini ke teman-teman kelompok kita” menjadi sebuah hal yang menarik nan misterius, ada apa gerangan ini? Apakah ada hubungannya dengan beberapa kegiatan yang serupa sebelumnya dimana “pesan” tersebut juga diberikan? dan yang jelas, berbagai macam lintasan pikiran tersirat terhadap misi ini sejak pagi hari.

Continue reading “2 Februari, 6 Tahun lalu”

Ruang Hati yang Tersisa

Pahit manisnya sebuah kenangan tetap meninggalkan sebuah ruang tersisa di hati yang bisa dikenang kembali di waktu yg tepat

Sebuah tweet terketik di pagi hari, sesaat setelah tubuh ini menemukan peraduannya di ruangan kantor. Entah apa yang ada di dalam pikiran hingga akhirnya huruf per huruf saling merangkai dan kemudian tersusun menjadi untaian kalimat tersebut.

Dan saya juga tak tahu bagaimana persepsi orang ketika membaca tweet tersebut. Apakah mereka menganggap suatu hal yang biasa saja, suatu hal yang menganggap sang penulis tweet sedang menjadi galau’ers, atau hal lainnya.

Namun, jika berpikir lebih mendalam lagi, memang hal tersebut adalah hal yang wajar. Dimana ada sebuah bagian dalam episode kehidupan kita yang terekam dalam sebuah ruang dalam hati. Dan bentuk episode kehidupannya, bergantung dengan persepsi yang membacanya.

Apabila seorang pejuang, dirinya akan melihat pahit getirnya perjuangan yang ia lakukan sebagai episode kehidupannya yang terkenang. Apabila ia seorang prestatif, ia akan menjadikan prestasi-prestasi yang ia raih sebagai sejarahnya yang tak teelupakan. Dan mungkin yang lainnya juga akan memiliki sudut pandang berbeda untuk hal ini.

Ketika berbicara terkait ruang hati yang tersisa, terkadang mengingat suatu pertanyaan umum yang mungkin sering terdengar di khalayak umum,

Dengan pengalaman hidup yang anda miliki, adakah fase-fase kehidupan anda yang ingin sekali anda hapuskan?

Dan tidak sedikit pula orang yang akan menjawab,

Saya ingin menghapuskan fase-fase kelam dalam kehidupan saya karena saya tidak ingin mengingat kembali kejadian-kejadian tersebut

Namun, jika pertanyaan itu diajukan ke saya, maka jawaban saya adalah

Saya tidak ingin melupakan apapun dalam hidup saya. Saya seperti saat ini merupakan hasil dari variasi rasa dalam kehidupan masa lalu yang saya dapatkan 🙂

Oleh sebab itu, akan selalu ada ruangan tersisa dalam hati yang menimbulkan kenangan dalam riak-riak perjalanan.

-sekian-

Posted from Xperia E-ki

Berapa Tahun Sudah

Hari ini datang kembali
Dan kembali ku renungi diri
Serta menata angan yang tak pasti
Jua mimpi yang selalu berganti

Sampai hari ini
Langkahku tak pernah henti
Untuk mendapat ridho Ilahi
Di alam fana ini

Berapa tahun sudah
Diri ini pasrah
Dalam tunduk Sang Kuasa
Untuk meraih cinta-Nya

Berapa tahun sudah
Banyak nikmat yang ku alpa
Hanya dosa yang ku sapa
Tapi diri takut neraka

Berapa tahun sudah
Diri ini menjaga
Karunia Sang Pencipta
Demi janji surga

~sebuah tulisan tertinggal di penghujung 2006~

Posted from Xperia E-ki