Category: Wawasan

Golongan Putih atau Hitam

Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me – milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam?

Menjelang pemilu mulai banyak yang menyebarkan ide untuk menjadi golput atau secara terbuka menyatakan diri akan golput. Golput atau golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu, sekalipun mempunyai hak pilih.

Ada yang menggelitik saya ketika mendengar lagi kata golput terutama mengacu pada singkatannya. Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me – milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam? Bukankah putih sering dianggap sebagai kebalikan hitam? Bukankah putih selalu identik dengan kesucian, kebaikan, dan kebenaran? Lalu mengapa yang tidak memilih malah dianggap kelompok putih? Kalau mau tetap menggunakan warna, menurut saya, putih bukan warna yang tepat.

Continue reading “Golongan Putih atau Hitam”

Merawat Jas Hujan

Kemudian saya sharing dengan penjual jas hujan ketika akan membeli yang baru dan menceritakan proses perawatannya. Dan ternyata, analogi yang selama ini saya gunakan itu salah!!

Di musim hujan seperti yang terjadi akhir-akhir ini, masing-masing orang memiliki senjata andalan untuk terus bisa melanjutkan aktivitas. Entah itu payung bagi pejalan kaki, jas hujan bagi riders, atau bahkan kantong kresek untuk melindungi sepatu! Namun terkadang kita lupa untuk memperhatikan cara merawat atau menjaga senjata andalan tersebut.

Saya mengambil contoh yaitu jas hujan, yang notabene menjadi sahabat perjalanan saya akhir-akhir ini dalam menerobos derasnya air hujan. Awalnya saya tidak tahu bagaimana cara merawat jas hujan dengan benar. Saya menganalogikan bahwa merawat jas hujan sama dengan merawat pakaian dalam hal ini adalah ketika melakukan pencuciannya. Pertama, direndam kemudian dicuci dengan sabun kemudian dijemur. Dan ingat, tidak  diseterika ya! Semula berjalan biasa saja sampai akhirnya jas hujan tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik karena sudah tidak mampu menahan air kembali.

Kemudian saya sharing dengan penjual jas hujan ketika akan membeli yang baru dan menceritakan proses perawatannya. Dan ternyata, analogi yang selama ini saya gunakan itu salah!!

Tukang tersebut memberitahukan bahwa dalam mencuci jas hujan tidak diperlukan sabun. Cukup langsung dibilas air dan dijemur saja. Karena, ada bahan-bahan di dalam sabun yang dapat merusak lapisan lilin atau penahan air yang ada di dalam jas hujan. Dan sejak saat itu, saya dapat pengetahuan baru bagaimana cara merawat jas hujan yang benar.

Ya, begitulah ilmu. Bisa datang dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Bisa jadi, ketika ada yang membaca blog ini, sebagian dari teman-teman pembaca sudah ada yang tahu atau mungkin juga belum tahu. Buat yang sudah tahu terutama secara ilmiah, akan lebih baik juga diberikan informasinya. Buat yang belum tahu, semoga tulisan singkat ini bisa menjadi penambah wawasan kita semua.

Be a Halal Auditor Yourself

“Produk pangan olahan industri modern minimal berstatus ‘’syubhat’’ lantaran sangat rawan ternoda unsur-unsur haram. Konsumen harus cerewet.”

—- mengcopy dari milis sebelah —

Sabtu, 22 Oktober 2011.

Huffft, jam sudah menunjukkan pukul empat sore, ketika Rachmat O’onasokhi Halawa dan istri serta anaknya baru terbebas dari jam lalu lintas di daerah Mangga Dua, Jakarta Pusat. Perut mereka keroncongan, belum sempat makan siang. Maka Rachmat belokkan mobilnya ke WTC (World Trade Center) Mangga Dua untuk cari tempat makan.

Di dekat lift WTC, kebetulan ada salah satu restoran seafood yang selama ini kata orang ‘’halal’’. Namun aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Halal Watch ini belum pernah menyambangi dan mencicipinya. Jadi, sekalianlah, mengkonfirmasi kebenaran anggapan tadi sambil mengisi perut lapar.

Rachmat dan keluarga memasuki resto yang bersemboyan “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima” itu. Setelah mengambil tempat duduk, kepada karyawati frontdesk yang menyambutnya, Rachmat bertanya, ‘’Apakah resto ini sudah halal?’’

‘’Halal, Pak,’’ jawabnya tegas.

Toh, feeling aktivis Milis HBE (halal-baik-enak) ini masih ragu. Apalagi ternyata resto itu belum mengantongi Sertifikat Halal dari MUI. Maka dia minta ijin untuk melihat-lihat ke dapur resto.

Mulanya, karyawati resto memustahilkan permintaan Rachmat. Tapi setelah agak dibujuk, dia masuk ke ruang belakang resto dan tak lama kemudian keluar lagi bersama seorang lelaki manager resto.

Continue reading “Be a Halal Auditor Yourself”

Tips-tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri

Halal

Teknologi pangan saat ini sudah sangat maju, shg makanan meningkat kualitasnya. Peningkatan kualitas ini disebabkan oleh penerapan teknologi makanan yang melibatkan berbagai bahan tambahan pangan (BTP). Bahan makanan yang asalnya HALAL bisa berubah mjd HARAM krn ketambahan BTP yang tidak halal.

Oleh karena tdk semua konsumen Muslim paham ilmu pangan dan istilah2 dalam ilmu & teknologi pangan, maka penting utk diuraikan jenis-jenis makanan yang harus dihindari dan diwaspadai di LN.

Apabila dikelompokkan berdasar sikap thd status keamanan (kehalalan) makanan tsb utk disantap, maka jenis-jenis makanan di LN dapat dibagi mjd 3 kategori, yaitu:

  1. AMAN : Jenis makanan ini halal disantap krn diyakini tidak menggunakan atau tidak tercemar bahan haram.
  2. HARUS DIWASPADAI : Jenis makanan ini statusnya syubhat, karena ada kemungkinan menggunakan bahan haram. Namun, jika kita bisa mengecek bahannya, maka statusnya insya Allah bisa berubah mjd halal. Pengecekan ini bisa dilakukan melalui ingredients list, label suitability for vegetarian/vegan, customer service, dll.
  3. HARUS DIHINDARI : Jenis makanan ini bisa dari jenis makanan yang berstatus haram atau jenis syubhat yang kita tidak dapat memastikan kehalalan jenis makanan ybs.

Continue reading “Tips-tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri”