Antara 2004, 2009, dan 2014


Ketika memilih menulis judul bilangan angka di atas, lantas  sekelebat memori bergulir dan mengajakku melamun sejenak. Lamunan yang kemudian menghasilkan sebuah romantisme masa lalu dan menggoreskan senyuman yang jelas tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

Apa sih yang menarik dari angka-angka di atas? Aaah, untuk segelintir orang, kumpulan angka tersebut sudah bisa ditebak alias bukan rahasia umum. Hampir 3 periode, diriku mengikuti masa itu. Sebuah masa yang mengharu biru, sebuah masa yang mungkin akan menjadi bahan cerita untuk kehidupan di masa mendatang.

Periode pertama, 2004. Pengalaman pertamaku memasuki masa ini. Namanya pengalaman pertama, tentu antusiasme tinggi membuncah di perasaan kala itu. Dengan bermodalkan amunisi gantungan kunci serta stiker, perlahan namun pasti amunisi tersebut habis diminta oleh teman-teman sekolah. – Dan tentu saja ada closing di dalamnya 🙂 -. Ada juga pengalaman berkesan yaitu pemasangan atribut di atas tenda di malam sebelum pertunjukkan. Sebuah pengalaman menarik yang menjadi modal berharga untuk kehidupanku sampai saat ini. Euforia pengalaman pertama tersebut membuatku memiliki itikad bahwa di 2009 nanti, diri ini ingin berkontribusi di wilayah yang berbeda. Dan akhirnya itikad tersebut terkabul dengan merapatnya tubuh ini di bumi Keraton.

Periode kedua, 2009. Sensasi lebih hebat dirasakan di masa ini. Seolah-olah merasa heroik perjuangan di masa itu. Sekitar 6 bulan waktu yang dipersiapkan melakukan kegiatan invasi ke salah satu desa yang sebelumnya tak pernah ku singgahi. Mulai dari perbatasan ujung barat di daerah Mlati, hingga ujung timur di daerah Gunung Kidul. Hampir tiap akhir pekan berada di antara dua daerah tersebut untuk melakukan kegiatan bertemakan “Mendengar & Mengajak”.

Selain itu, di hari-hari biasa, aktivitas malam diisi dengan kegiatan turun di jalan memutari tiap sudut kota. Memastikan tidak ada satu titik pun yang belum terpasang atribut. Saking terbiasanya berada di jalan, maka ada masa di mana tidur sejenak di atas trotoar pun bukan menjadi penghalang. Ada juga pengalaman seperti halnya di tahun 2004 yaitu memasang atribut di atas pohon yang letaknya cukup strategis dalam mobilitas mahasiswa ataupun warga.

Setelah strategi diatur sedemikian rupa akhirnya dipilih sebuah malam dini hari untuk beraksi. Ketika waktunya datang, realita sedikit berbeda dengan bayangan. Kondisi pohon dan halang rintang menuju ke pohonnya berbeda seperti yang dibayangkan sebelumnya.  Dengan strategi manajemen darurat dan pantang mundur ke belakang, akhirnya bersama seorang teman, kami berdua menjadi eksekutor pemasangan atribut berbentuk bendera. Dalam keadaan minim penerangan dan posisi pohon yang cukup menantang, waktu yang kami perlukan sedikit lama untuk menuntaskan misi tersebut. Singkat cerita, bendera berhasil dipasang dan kami meyakini bahwa pihak keamanan kampus tentu akan kesulitan jika berniat menurunkan bendera tersebut dari pohon. Dan benar saja, atribut tersebut dapat bertahan lama di daerah pertigaan agro kompleks.

Dan sekarang ini, di periode ketiga, dengan kondisi operasional lapangan yang berbeda dengan periode-periode sebelumnya, tentu saja mengharuskan diri memiliki strategi dan cara sendiri untuk memiliki sebuah cerita kenangan di masa mendatang. Yang jelas, hingga saat ini, sulit merasakan atmosfer pengalaman masa lalu. Namun, ada keyakinan yang tetap sama yaitu nilai manfaat dari kontribusinya akan tetap sama. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s