Melepasmu dan Memilihnya


Dirimu juga sempat ku antar ke beberapa tempat, namun rata-rata jawaban mereka sama. “Sepertinya sudah tidak ada harapan…”

Akhirnya… setelah kurang lebih 3 tahun kita bersama, dengan berat hati saya mencoba berpaling ke yang lain. Bukan.. bukan karena saya tidak mencoba setia… namun, karena inilah hidup.. inilah pilihan.. dan pilihan yang ada saat ini adalah saya harus melepasmu dan kemudian memilihnya.

Kamu percaya kan dengan takdir? Ya, takdir itulah yang mempertemukan kita. Saat itu, tak ada di dalam benakku untuk memilihmu karena dirimu bukanlah pilihan pertama. Ada sosok lain yang aku ingin pilih. Namun akhirnya takdir berkata lain dan diriku mau tak mau harus memilihmu.

Dan disinilah keajaiban sebuah takdir. Kita tak pernah tahu apakah kejadian yang saat ini kita alami adalah kejadian buruk atau baik dikarenakan hikmah dari sebuah kejadian itu baru biss kita ketahui setelahnya.

Tak terasa tiga tahun bersama denganmu. Kamu setia menemaniku dalam melakukan perjalanan kehidupan dan juga menaklukkan mimpi-mimpi yang tertuang. Tak pernah ada protes darimu saat diri ini mengeluh. Tapi tak ada juga ekspresi berlebih saat diri ini bergembira ria. Kamu hanya diam menerima semua tingkah laku yang aku lakukan.

Dan kurang lebih 6 bulan lalu, kamu benar-benar terdiam. Ya.. hanya berdiam diri.. bergeming tanpa ada tanda-tanda kehidupan seperti biasanya. Ku lakukan pertolongan pertama yang aku pahami namun tak ada tatapan yang ku lihat seperti biasa. Kau benar-benar terdiam. Dirimu juga sempat ku antar ke beberapa tempat, namun rata-rata jawaban mereka sama. “Sepertinya sudah tidak ada harapan…”

Ku mencoba bertahan. Bertahan dan mencoba belajar arti kesetiaan terhadapmu. Namun, akhirnya kesetiaanku mulai goyah di akhir tahun lalu. Ku sudah mulai mencoba berani berpaling ke yang lain. Bukan.. bukan aku tidak ingin mempertahankanmu. Aku sudah mencoba untuk mempertahankan hubungan kita namun tanda-tanda kejelasan bahwa dirimu sudah tak mungkin lagi menemaniku menjadi salah satu alas an mengapa aku memulai mencari yang lain dan akhirnya saat ini aku memilihnya.

Ya, sekarang aku sudah memilihnya untuk menggantikan peranmu. Dan dengan berat hati aku harus melepaskanmu. Terima kasih atas semua yang sudah kau berikan untukku. Karena kamu lah, saat ini aku bisa berada di sini. Walaupun akhirnya, karena kamu pula lah aku harus melepaskanmu dan memilihnya.

Terima kasih banyak untukmu, Lappie HaPpy, yang sudah menjadi saksi bisu atas peluh keringat perjuangan meraih kelulusan akademik maupun amanah. Kondisimu yang sudah tidak mungkin bisa kembali hidup menjadi alasanku untuk mencari penggantimu. Semoga peranmu akan bisa digantikan dengan baik olehnya, si Le’ Novo…

10 thoughts on “Melepasmu dan Memilihnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s