Month: February 2014

Topi : Kembali ke Kebiasaan Lama

Akhir-akhir ini ada sebuah kebiasaan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan, yaitu menggunakan topi dalam keadaan santai.

Selain di pabrik, entah kapan tepatnya saya menggunakan topi di acara non formal. Mungkin terakhir kali menggunakan topi santai sekitar 4-5 tahun lalu.

Continue reading “Topi : Kembali ke Kebiasaan Lama”

Satu per Satu

Dulu…
Saat satu per satu
Sudah melangkah maju
Diriku hanya diam membisu

Dulu…
Saat satu per satu
Sudah berbalut lencana
Diriku hanya diam terpana

Dulu…
Saat satu per satu
Sudah meraih mimpi
Diriku hanya terpaku sedih

Sekarang…
Saat satu per satu
Sudah melanglang buana
Diriku masih duduk terkesima

Dan…
Saat satu per satu
Sudah terlihat bahagia
Diriku pun masih terluka

Posted from Xperia E-ki

Golongan Putih atau Hitam

Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me – milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam?

Menjelang pemilu mulai banyak yang menyebarkan ide untuk menjadi golput atau secara terbuka menyatakan diri akan golput. Golput atau golongan putih dikenal sebagai sebutan untuk warga negara yang sengaja menolak memilih dalam pemilu, sekalipun mempunyai hak pilih.

Ada yang menggelitik saya ketika mendengar lagi kata golput terutama mengacu pada singkatannya. Jika mereka yang menolak menggunakan hak pilih dalam pemilihan umum disebut golongan putih, apakah berarti mereka yang me – milih dalam pemilihan umum kemudian menjadi golongan hitam? Bukankah putih sering dianggap sebagai kebalikan hitam? Bukankah putih selalu identik dengan kesucian, kebaikan, dan kebenaran? Lalu mengapa yang tidak memilih malah dianggap kelompok putih? Kalau mau tetap menggunakan warna, menurut saya, putih bukan warna yang tepat.

Continue reading “Golongan Putih atau Hitam”

Melepasmu dan Memilihnya

Dirimu juga sempat ku antar ke beberapa tempat, namun rata-rata jawaban mereka sama. “Sepertinya sudah tidak ada harapan…”

Akhirnya… setelah kurang lebih 3 tahun kita bersama, dengan berat hati saya mencoba berpaling ke yang lain. Bukan.. bukan karena saya tidak mencoba setia… namun, karena inilah hidup.. inilah pilihan.. dan pilihan yang ada saat ini adalah saya harus melepasmu dan kemudian memilihnya.

Kamu percaya kan dengan takdir? Ya, takdir itulah yang mempertemukan kita. Saat itu, tak ada di dalam benakku untuk memilihmu karena dirimu bukanlah pilihan pertama. Ada sosok lain yang aku ingin pilih. Namun akhirnya takdir berkata lain dan diriku mau tak mau harus memilihmu.

Dan disinilah keajaiban sebuah takdir. Kita tak pernah tahu apakah kejadian yang saat ini kita alami adalah kejadian buruk atau baik dikarenakan hikmah dari sebuah kejadian itu baru biss kita ketahui setelahnya.

Continue reading “Melepasmu dan Memilihnya”

2 Februari, 6 Tahun lalu

Dan kembali saya menyadari bahwa tanggung jawab itu hanyalah sebuah trial alias test case apakah diri ini layak atau tidak diberikan tanggung jawab yang lebih besar…

Dalam setiap jejak kehidupan setiap insan, pasti akan selalu ada momentum kehidupan yang didapatkannya. Baik suka maupun duka, baik keberhasilan maupun kegagalan, atau aktivitas apapun yang membuat ekspresi wajah silih berganti dari tersenyum, tertawa, maupun menangis. Dan diri ini pun mengalami salah satu momen kehidupan yang tepat terjadi di tanggal ini, 6 tahun lalu, di sebuah tempat terpencil di pinggir kota Sleman, Yogyakarta.

Kala itu, ibarat sebuah misi rahasia, saya diminta untuk datang ke suatu tempat yang saya sendiri belum tahu dimana itu. Dan di malam hari pula! Hanya bermodalkan ancer-ancer lokasi dan sebuah pesan “tidak perlu mencertitakan hal ini ke teman-teman kelompok kita” menjadi sebuah hal yang menarik nan misterius, ada apa gerangan ini? Apakah ada hubungannya dengan beberapa kegiatan yang serupa sebelumnya dimana “pesan” tersebut juga diberikan? dan yang jelas, berbagai macam lintasan pikiran tersirat terhadap misi ini sejak pagi hari.

Continue reading “2 Februari, 6 Tahun lalu”