“Bola Itu Bundar, Jenderal!”


“… pertandingan sepakbola bukanlah pertarungan eksak yang menelurkan kepastian siapa yang akan menjadi pemenang …”

Perjalanan kompetisi sepakbola Eropa terus melaju dan bergulir. Bulan April – Mei merupakan fase akhir untuk para peserta berlari sprint dalam marathon panjangnya yang dimulai sejak sekitar bulan Agustus lalu. Mereka yang memiliki mental juara mulai meninggalkan rival-rivalnya. Bertarung untuk membuktikan bahwa perjuangannya akan menambahkan trofi di lemari sejarah klub. Di setiap liga Eropa, khususnya 3 liga terbaik Eropa, rata-rata hanya menyisakan dua klub untuk bersaing menjadi yang terbaik. Tim besar lainnya mulai mengalihkan target dari juara menjadi mengincar tiket continental trophy. Sedangkan tim medioker menargetkan selamat dari degradasi. Tidak sedikit di antara liga-liga tersebut yang menghasilkan kejutan, memutarbalikkan data di dalam fakta yang terjadi.

Serie A

Di Serie A Italia, tidak akan ada yang memprediksi di awal musim jika Inter Milan akan bersaing dengan klub-klub papan tengah guna merebutkan tiket kompetisi Liga Eropa. Liga Champions yang seharusnya menjadi tempat kompetisi mereka akhir-akhir ini, dianggap belum layak untuk klub yang harus berganti tiga pelatih dalam semusim. Mereka belum bisa move on setelah ditinggal Mourinho dua musim lalu dengan meninggalkan warisan skuad pemenang triple champions. Perjalanan di musim ini menggambarkan bahwa hasil yang mereka dapatkan selama lima musim terakhir merupakan “pemberian’ dikarenakan dua raja asli Italia yaitu AC Milan dan Juventus sedang melakukan rekomposisi pasca kasus calciopoli.

BPL

Tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Barclays Premier League. Liverpool yang bermodalkan pemain ciamik dan mulai menjalani musim penuh bersama Kenny Dalglish, hanya terseok-seok di tengah klasemen. Piala Liga yang mereka peroleh di Februari lalu dianggap belum cukup oleh fans jika di akhir musim, MU unggul 2 gelar liga lebih banyak dibandingkan 18 gelar liga milik The Pool.

Jangan lupakan pula dua tim promosi yang memiliki keadaan bertolak belakang, QPR dan Swansea. Quens Park Rangers merupakan klub promosi yang bermodalkan dana melimpah untuk klub sekelasnya. Pembelian pemain berlabel eks bintang seperti Shaun Wright Phillips, Joey Barton, hingga Djibril Cisse seolah menegaskan bahwa mereka akan memberika shock therapy bagi tim papan atas dan meninggalkan tim promosi lainnya, Swansea dan Norwich, untuk berada di zona merah. Namun, fakta klasemen mengatakan sebaliknya! Swansea, klub yang berasal dari Wales ini, lebih mapan berada di peringkat sebelas meninggalkan QPR yang megap-megap di posisi ketiga dari bawah. Selain itu, Swansea dianggap memiliki permainan yang menarik untuk dilihat di antara klub-klub liga Inggris. Operan-operan pendek ala Barcelona menjadi ciri khas permainan klub berlogo angsa ini.

La Liga

Di La Liga Spanyol, lupakanlah duopoli kuda pacu bernama Madrid dan Barca. Lihatlah siapa yang berada di bawah mereka. Klub seperti Levante dan Malaga bukanlah klub yang bersaing untuk kompetisi Eropa. Namun sekarang, mereka bahkan bersaing untuk tiket Liga Champions! Kehadiran investor timur tengah dengan kucuran uangnya ke Malaga memang menuntut mereka untuk beraksi di kompetisi Eropa musim depan. Levante, klub kecil asal kota Madrid, mampu memberikan kejutan di awal musim dengan mengalahkan sang raksasa, Real Madrid.

Jika menilik ke sekitar lantai dasar klasemen, ada klub besar yang tengah karam. Ya, dialah si Kapal Selam Kuning Villareal. Mengawali perjalanan di awal musim dengan Liga Champions namun berakhir dengan juru kunci grup tanpa poin sebiji pun! Ketidakmampuan membagi fokus antara di liga dan Champions menjadi salah satu alasan mengapa semifinalis Liga Champions 2005/2006 ini berjuang melawan hisapan lumpur degradasi.

Kondisi ini juga berlaku di Liga Champions. Siapa yang memprediksi dua wakil Manchester harus terlempar dari fase grup kemudian berlaga di Liga Eropa, walaupun akhirnya tersingkir dari sana pula? Dan siapa pula yang menjagokan favorit juru kunci grup seperti APOEL Nicosia dari Siprus malah menjadi juara grup mengangkangi Porto, Zenith, Shaktar? Perjalanan kurcaci ini di negeri dongeng pun berlanjut dengan menyingkirkan Lyon di perdelapanfinal.

Ya, itulah pertandingan sepakbola. Tidak ada yang mampu prediksi secara 100 % tepat atas apa yang akan terjadi di lapangan. Perhitungan sejarah dan analisis di atas kertas bisa saja tidak berguna ketika bola sudah bergulir di antara ke 22 pemain. Pertandingan sepakbola bukanlah pertarungan eksak yang melahirkan kepastian siapa yang akan menjadi pemenang. Para pemain bisa saja menjadi seperti serdadu perang yang siap menjalankan strategi komandan pelatih dengan bekal-bekal artileri yang didapatkan selama latihan. Pemain-pemain tersebut tidak pernah datang ke lapangan hijau dengan mental untuk kalah dalam pertandingan. Namun, mereka siap jika akhirnya harus kalah. Kalah dan menang hanya akan terjadi ketika wasit sudah meniupkan peluit panjangnya. Karena, dalam pikiran mereka tertanam bahwa “Bola itu bundar, Jenderal!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s