eS Te Ka


Waktu terasa semakin berlalu

Tinggalkan cerita tentang kita

Akan tiada lagi kini tawamu

Tuk hapuskan semua sepi di hati

Ada cerita tentang aku dan dia

Dan kita bersama saat dulu kala

Ada cerita tentang masa yang indah

Saat kita berduka saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama

Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia

Dan kita bersama saat dulu kala

Ada cerita tentang masa yang indah

Saat kita berduka saat kita tertawa

(Semua Tentang Kita – Peterpan)

Jika setelah membaca judul ini kemudian melihat prolog lagu yang saya gunakan dan kemudian diambil kesimpulan bahwa tulisan ini akan berisi antara aku dan dia layaknya diriku dengan seseorang dalam cerita cinta picisan, maka sebaiknya mulailah biasakan diri kita untuk tidak langsung mengambil kesimpulan sebelum mengetahui segalanya dengan jelas. ^_^

Saya tidak menyalahkan jika ada yang menangkap makna dari kata “kita” dari lirik di atas adalah pasangan kekasih. Karena memang persepsi kita timbul dengan melihat siapa yang membawakan lirik lagu ini. Atau memang tersurat dalam lirik tersebut terkait cinta picisan. Namun, izinkan saya untuk mengambil sisi humanis yang terkandung dari lirik ini yaitu persahabatan.

Sungguh indah nian jika kita dapat merasakan persahabatan yang seperti itu. Dimana kita merasakan kehilangan seorang atau bahkan lebih yang kita sebut sebagai sahabat. Akan ada berbagai macam definisi terkait sahabat jika kita tanyakan kepada orang-orang sekitar. Namun bagi saya, sahabat adalah transformasi status seseorang dari seorang teman atau kawan menuju seorang saudara alias teman –> sahabat –> saudara.

Pernahkah kita merasakan kehilangan seorang sahabat?

Persahabatan

Seorang yang mengerti keadaan kita tanpa perlu bercerita detail terkait yang kita alami. Seorang yang siap mendengarkan cerita kita, baik suka maupun duka. Seorang yang siap menolong kita tanpa pamrih. Seorang yang siap menggenggam tangan kita saat diri kita hampir terperosok jatuh. Seorang yang bisa memberikan ketenangan di saat kondisi kita kalut, panik, atau bahkan frustasi.

Sebenarnya peran itu bisa dimiliki oleh pasangan hidup (bagi yang sudah berpasangan) namun hal tersebut merupakan hal yang wajar karena peran-peran tersebut merupakan konsekuensi dari ijab kabul yang telah dilakukan. Namun berbeda dengan sahabat. Awalnya, dia bukan siapa-siapa dalam hidup kita. Bermula dari kenalan seadanya saja. Interaksi yang kian intens dan kemudian belajar untuk saling mengerti dan memahami. Sungguh unik proses persahabatan itu!

Jika kita merasa pernah kehilangan seorang sahabat – kehilangan bukan dalam arti sudah berbeda alam- maka saya dapat mengatakan bahwa orang tersebut sebenarnya bukan sahabat kita melainkan masih seorang teman. Sejatinya, sahabat itu tidak akan pernah hilang dalam kamus kehidupan kita. Entah itu ketika berpisah jarak, perubahan status pernikahan, ataupun hingga rambut berubah menjadi uban.

Coba sekarang mari kita keluarkan kertas dan tulislah nama-nama orang yang menurut kita dia adalah sahabat kita.Kemudian ingat kembali kapan kita berinteraksi terakhir kali baik via sms, phone, chatting, atau media komunikasi lainnya. Apakah sehari yang lalu? Seminggu yang lalu? Sebulan yang lalu? Atau bahkan setahun yang lalu?

Jika ada yang menjawab setahun, maka coretlah nama itu! Seorang sahabat tak pernah selama itu untuk tidak menjalin komunikasi. Jika ada yang menjawab sebulan lalu, maka berilah tanda tanya di akhir namanya. Benarkah ia sahabat kita? Mengapa cukup lama sekali tidak berinteraksi? Sibukkah? Perhatikanlah hal ini. Bagi saya pribadi, tak ada istilah “sibuk” untuk menjaga hubungan dengan seorang yang mengerti kita.

Masih ada berapa nama yang tersisa? Jika masih cukup banyak, maka bersyukurlah bahwa aku, kamu, atau kita masih berusaha untuk menjaga proses persahabatan itu. Jika sudah tersisa sedikit nama, maka berusahalah agar nama-nama tersebut tidak segera terhapuskan oleh memori waktu. Banyak media yang bisa digunakan untuk sebuah niat menjaga persahabatan yang berujung pada persaudaraan. Banyak cara untuk menyiasati bagaimana kita belajar memahami dan mengerti untuk menjadi seorang sahabat.

Sehingga hanya tersedia dua pilihan. Pertama, jaga komunikasi dengan sahabat kita. Atau yang kedua, kita hanya akan memiliki kenangan “cerita tentang kita”, “ada cerita tentang aku dan dia”, “ada cerita tentang masa yang indah” ? Yang semua itu telah terjadi di masa lalu.

So, jangan sampai kita merasa terlambat sehingga kita hanya memiliki memori “dulu saya pernah memiliki seorang sahabat!”.

7 thoughts on “eS Te Ka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s