El Clasico (again)


Entah yang sudah edisi keberapa saya menulis blog bertemakan el clasico. Dibilang bosan? Tentu tidak. DIbilang jenuh? Juga tidak. Namun yang pasti, ada sebuah pencapaian yang tidak sesuai dengan ekspektasi dari pertandingan ini. Sebagai madridista, mendapatkan kemenangan sudah pasti diharapkan. Namun, jauh dari itu semua, ekspektasi saya hanyalah menikmati pertandingan dimana terdapat “jual-beli” serangan.

Mourinho memang mampu menyulap Inter Milan memiliki pertahanan grendel ala Italia sehingga membuat pemain Barca frustasi lalu mudah ditaklukan dengan serangan baliknya. Mourinho memang jenius mampu menyulap pemain untuk bermain di luar posisi yang biasa dia perankan. Namun, entah mengapa, saya kurang melihat kejeniusan Mou dalam meracik Madrid agar dapat menahan serangan Barca.

Okelah, saya akui bahwa untuk saat ini Barca mempunyai sistem permainan yang dapat dinikmati pecinta sepakbola. Bagaimana penonton dapat melihat bola mengalir dengan indahnya dari kaki kiper ke bek ke gelandang ke striker kemudian berakhir dengan gol. Dan proses itu berjalan sempurna dengan posession football yang sangat dominan. Namun perlu diketahui, Barca bukanlah tim yang tidak bisa dikalahkan! Tim gurem seperti Levante pun mampu menorehkan sejarah sebagai tim yang mampu mengalahkan Barca musim ini.

Kembali ke Madrid dan el clasico dini hari nanti. Menurut saya, strategi yang perlu diterapkan untuk melawan tim seperti Barca adalah pertahanan rapat, pergerakan aggresif, dan menyerang konstan! Memilih bertahan melawan Barca ibarat menunggu bom waktu yang akan meledakan gawang saja. Pertahanan rapat diterapkan dengan memilih pemain-pemain yang cerdas dalam mengantisipasi permainan tiki-taka ala Barca. Saya memilih nama Sergio Ramos untuk melengkapi Trio Portugal : Carvalho, Pepe, Coentrao.

Posisi gelandang bertahan bisa diberikan kepada pemain agresif dalam “membersihkan” bola yang ada di lapangan tengah atau bisa diistilahkan sebagai “ball winning midfielder” yang ada dalam diri Lass serta Khedira. Melengkapi kedua gelandang sapu bersih itu, dipilihlah pemain-pemain kreatif yang bisa mengatur dan menjaga ritme permainan. Madrid beruntung memiliki Xabi, Oezil, serta Kaka yang memiliki karakter sama : playmaker. Jika Xabi berperan di sentral, maka biarkan Oezil dan Kaka menyisir sisi lapangan.

Untuk striker tunggal, Benzema dan Higuain harus mengalah kepada Ronaldo dikarenakan mereka berdua tidak memiliki kecepatan untuk mengalahkan Puyol dan Pique. Dengan modal sprint cepatnya Ronaldo, Pique tidak berdaya di pertemuan pertama dengan berujung pada gol satu-satunya di gawang Barca.

Dengan komposisi pemain seperti ini, permutasi formasi di pertandingan pun bisa dilakukan Madrid. Permutasi inilah yang akhir-akhir ini dilakukan Barca. Secara teori mereka menggunakan formasi 433 namun faktanya Pep mengubahnya menjadi 343 dengan posisi-posisi pemain yang selalu bertukar. Coba lihat bagaimana seorang Dani Alves atau Adriano yang notabene seorang wing back berubah peran menjadi penyerang sayap. Atau Fabregas yang seorang gelandang menjadi striker murni.

Inilah momen yang tepat untuk Mou untuk melihat apakah memang dirinya cukup jenius dibandingkan Pep?

7 thoughts on “El Clasico (again)

  1. Gwe present niy, buka pake bb, tpi mane namany? Pep… Peperoni Pizza with parmesan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s