Tomodachi


Saya tidak tahu kapan tepatnya mengenal dirinya. Sosok yang kala itu saya ingat sedang mengenakan gips di tangannya dikarenakan jatuh terdorong temannya yang berbadan jauh lebih besar darinya. Dan sejak saat itu, perlahan namun pasti, saya mulai mengenal lebih jauh tentangnya. Tak terasa dari zaman putih biru kala itu hingga beralmamater warna karung goni kami tempuh bersama.

Tak banyak orang yang mengetahui nama lengkapnya. Biasanya teman-teman saya lebih mengenal dirinya dengan nama panggilan. Tapi, saya tidak. Sedari dulu, saya termasuk orang yang senang mengenal secara detail terkait seseorang. Begitupun dengan dirinya. Baik nama lengkap ataupun nama panggilannya ketika di rumah, sekolah, bahkan kampus.

Bisa dikatakan antara saya dan dirinya tidak ada yang sama. Dari segi karakter, saya menilai dia cenderung koleris dibandingkan diri saya yang cenderung melankolis. Dirinya pun mempunyai bakat born to be a leader dibandingkan saya yang lebih menyenangi sesuatu di balik layar. Fisik? Ah, juga jauh jika dikomparasikan. Dan sepaham saya pun, awalnya kami tidak memiliki minat untuk berada di kampus ini. Dirinya memiliki impian berada di kampus ala militer di Jatinangor, Bandung sedangkan impian saya selalu berada dalam balutan almamater kuning, Depok. Tapi, ternyata Allah memiliki rencana lain yang lebih indah. Ia menyatukan kami di tanah perantauan Yogyakarta.

Terlalu banyak cerita indah yang tersimpan yang sulit untuk dituliskan satu per satu. Mulai dari proses pembinaan pengetahuan agama yang dilakukan oleh senior kami, suka duka ketika kami digojlok dalam ekskul bernuansa semi militer, petualangan adaptasi di Kampus Biru, perjuangan dari pemikiran hingga fisik bersama para Laskar 2009, hingga perpisahan domisili sementara yang terjadi di rumah saya. Salah satu peristiwa yang membuat genangan air dalam pelupuk mata kami. Ohya, bahkan cerita-cerita tentang cinta monyet pun kami sama-sama tahu luar dalamnya!

Satu per satu peristiwa kehidupan yang kami alami membuat kami seperti saudara sendiri, dan bahkan menganggap orang tua kami seperti orang tua sendiri. Begitupun dengan saudara-saudara kami. Secara perlahan, aku mulai mengenal siapa orang tuanya beserta ketiga adiknya. Sebagai anak sulung, wajar jika dirinya terlihat lebih dewasa atau cenderung tegas dibandingkan saya yang bungsu ini.

Saya pun menjadi saksi atas ketegasannya. Pengakuannya dari dua peristiwa yang membuat tangannya biru-biru dikarenakan ada proses penodaan kehormatan komunitas kami. Peristiwa pertama terjadi sekitar medio 2007. Sebuah peristiwa yang cukup menghebohkan kampus kala itu yang terjadi di fakultas saya. Peristiwa kedua terjadi di medio 2009, ketika ada seorang cowok yang mengganggu cewek yang notabene sahabat dekat kami.

Jika flashback lebih jauh lagi ke zaman putih abu-abu, saya menjadi saksi mata atas sikapnya mengeluarkan anggota ekskul dimana saat itu dirinya menjadi ketua. Bukan hanya satu, tapi dua orang dikeluarkan! Dan proses pengeluarannya pun buat saya merupakan proses yang tidak terhormat. Dikarenakan memang kedua orang tersebut sudah kami nilai tidak memiliki komitmen yang sama dalam membangun komitmen di ekskul kami.

Ketegasannya itulah yang terkadang membuat saya mengkomparasikan dengan sosok sahabat Rasulullah bernama Umar bin Khattab. Proses hijrahnya Umar merupakan salah satu rencana Allah yang menjadikan Islam diterima oleh kafir Quraisy. Dan proses hijrahnya dirinya pun semoga semakin menguatkan Islam sebagai agama yang membela yang hak dan menghancurkan yang bathil.

Dan kini, dirinya sudah selangkah lebih maju dibandingkan saya. Mulai putih biru hingga putih abu-abu, kami masuk dan keluar secara bersama-sama. Namun tidak untuk kali ini, kami memang masuk secara bersama tapi dirinya sudah meninggalkan jejak terlebih dahulu dibandingkan saya yang masih perlu menyisakan jejak-jejak terakhir di kampus ini.

Dirinya sekarang sedang menikmati indahnya guguran bunga sakura di sana, sebuah negara yang menjadi salah satu mimpi untuk saya kunjungi. Masih terngiang dalam diri saya perkataannya, “Ki, ane pinjem buku Minna nihon go nya ya? Mau belajar sedikit-sedikit biar lebih jago dari ente, siapa tahu klo ada rezeki, kita bisa pergi kesana bareng-bareng!”

=================================================================================

(Sebuah memoar nostalgia terhadap saudara seperjuangan dalam deburan perasaan menggelayut kalbu. For my best brother, Keep Struggle n Always Pray to keep our in His Way!)

6 thoughts on “Tomodachi

  1. Asli Ki, ane nangis bacanya.. ane kenal banget dg org itu. Semoga kita bisa terus berteman dengan org itu ya. Ente tau gak Ki, ane pernah ketemu dengan orang itu, dan dia bilang: Sampaikan salam rinduku pada Rezki!

  2. kayaknya gw juga kenal tuh ama nih orang..
    *bukan begitu saudara eki dan abe?

  3. Kok saya berasa tahu, yah?!

    Haha..pasti anak SLTPN 1 Bekasi & SMAN 1 Bekasi deh tuh..

    1 aja ya..gak usah ditambah2in sama angka 4..
    Ya kan Kak Panji…?! 😀

  4. Lho..saya kan ndak menjawab pertanyaan apapun dari Kak Panji..

    Hhaha..malahan saya nambahin pertanyaan, bukannya begitu ya, Pak?!

    Dimana2 no.1 itu akan bagus & oke, tanpa adanya embel2 angka berapapun, Pak! 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s